Translate

Home

Thursday, November 3, 2016

Pembuang dan Penyia Makanan



Dipostingan ini saya akan menulis mengenai problema yang secara gak sadar banyak terjadi pada orang Indonesia, terlepas jika ada orang diluar Indonesia yang melakukan hal yang sama.

Foto diatas saya ambil ketika makan siang disalah satu resto di salah satu pusat perbelanjaan di Indonesia, saat itu ada 4 orang yang datang duduk disebelah meja kami dan memesan makanan namun yang menarik perhatian saya adalah ketika  mereka meninggalkan meja dengan kondisi makanan yang hanya di santap beberapa suap sedangkan 2 temannya menghabiskan makanannya

Namun saya mencoba berpikir, apa yang menyebabkan makanan tidak disantap habis?
1.     Mungkin karena makanan yang datang tidak sesuai keinginan / selera
2.     Mungkin karena gengsi takut dibilang “rakus”, atau “udah ga makan berapa hari?”
3.     Ada panggilan mendadak yang membuat harus segera meninggalkan resto

Ada sebuah artikel dari orang jerman yang sudah diterjemahkan mengenai budaya orang Jerman dalam mengkonsumsi makanan

Jerman adalah sebuah negara yang sangat terindustrialisasi .
Di negara seperti ini, banyak yang akan berpikir bahwa orang di negara tersebut hidup dalam kemewahan.

Ketika saya tiba di Hamburg, rekan saya berjalan ke sebuah restoran, kami melihat banyak meja yang kosong. Ketika itu ada sebuah meja diisi oleh pasangan muda mudi yang sedang menikmati makanannya. Di meja itu hanya ada dua piring makanan dan dua kaleng bir. Aku membayangkan apakah bisa makanan simpel seperti itu dibilang romantis, dan mungkin saja si gadis akan meninggalkan si pemuda yang pelit tersebut.

Di sana juga ada beberapa wanita tua di meja yang lain. Ketika makanan disajikan, si pelayan akan membagi makanan tersebut ke piring mereka masing2, dan mereka akan menghabiskan makanan mereka sampai tidak tersisa di atas piringnya.

Karena kami lapar, rekan saya tadi yang juga orang lokal (mungkin orang Jerman mungkin tidak), memesan makanan yang cukup banyak untuk kami. Ketika kami selesai dan pergi, masih ada makanan yang tersisa kira2 sepertiga dari porsi awalnya.

Kami mau meninggalkan restoran ketika tiba2 seorang wanita tua berbicara dalam bahasa inggris kepada kami, dan kami sadari ternyata mereka tidak senang dengan kami yang menyisakan makanan kami di atas meja tadi, dan dalam jumlah yang cukup banyak.

“Kami kan sudah bayar makanan tadi, bukan urusan kamu berapa banyak kami menyisakan makanan”, kata rekan kami bilang kepada wanita tua tersebut. Wanita tersebut menjadi geram, dan salah satu dari wanita tersebut dengan seketika mengambil handphone nya dan menelpon seseorang. Beberapa saat kemudian, seorang petugas pria dengan seragam Organisasi Keamanan Sosial tiba. Dia sudah mengetahui masalahnya, dan dengan seketika mengeluarkan surat denda sebesar 50Euro (kira2 800rb rupiah). Kami semua terdiam.


Petugas tersebut berbicara dengan tegas dan keras “PESAN APA YANG BISA KAMU HABISKAN, UANG ITU MEMANG MILIK KAMU TAPI SUPPLY MAKANANNYA MILIK MASYARAKAT. MASIH BANYAK ORANG DI DUNIA YANG MENGHADAPI KEKURANGAN MAKANAN. KAMU TIDAK MEMILIKI ALASAN UNTUK MENYIAKAN MAKANAN TERSEBUT.

Pola pikir masyarakat di sebuah negara yang kaya seperti Jerman ini telah membuat kami malu pada diri kami sendiri. KITA PERLU MERENUNGI HAL INI. Kami berasal dari negara yang tidak seberapa kaya sumber dayanya. Untuk menahan rasa malu karena gengsi, kami sering memesan dan mentraktir orang dengan makanan yang banyak dan disaat setelah makan kita membuang sisanya dengan sia-sia.

CERITA INI MEMBERI PELAJARAN KEPADA KITA UNTUK BERPIKIR SERIUS DAN MERUBAH KEBIASAAN BURUK KITA.

“UANG ITU MEMANG MILIK KAMU TAPI SUPPLY MAKANANNYA (SUMBER DAYANYA) MILIK MASYARAKAT”


Saya dibesarkan dalam keluarga yang tidak membiasakan diri untuk menyisakan makanan, dulu daya sering dimarahi ketika menyisakan nasi dalam piring, ataupun ketika menyantap ayam ataupun ikat tidak dimakan sampai bersih, padahal hanya sedikit, namun ketika lebih didalami jika satu hari saya menyisakan ¼ nasi dipiring saya, bayangkan dalam setahun berapa banyak nasi yang saya buang?
Atau ketika makan prasmanan dalam suatu acara kita makan sampai habis, pasti sebagian orang akan melihat kita dengan ekspresi “ga pernah makan enak?”padahal sikap seperti inilah yang sombong atas rezeki yang Tuhan berikan atau ketika sengaja menyisakan makanan supaya tidak dibilang rakus. Perilaku sok malu seperti menyisakan satu makanan terakhir (dalam pesta pernikahan Chinese “ciak tok” paling mudah ditemukan) yang sudah membudaya padahal menghabiskan makan bukan rakus karena ada pepatah mengatakan “satu butir nasi sejuta keringat”, ada cerita dan perjuangan disetiap makanan yang terhidang

Intinya ambillah sesuai dengan kemampuan perutmu atau jika ada makanan yang berlebih dan anda ga sanggup untuk menghabiskannya berikanlah ke orang lain atau orang yang lebih butuh

Beberapa kebiasaan orang Indonesia lainnya adalah ketika pasangan makan berdua, saya sering melihat pria ataupun wanita yg malu menghabiskan makanan didepan pasangannya, Lucunya kalo udah nikah gak malu malu lagi minta makan bahkan minta tambah

Selama kita sadar jika source makanan itu terbatas dan belajar untuk melihat kebawah masih banyak orang yang tidak dapat makan atau mau makan harus cari kesalan kemari, harusnya kita sadar dan bersyukur atas kekayaan sumber daya yang kita punya atas kesempatan makan yang setiap kali kita nikmati

Menghabiskan makanan sampai tidak tersisa dan menjadi orang terakhir menghabiskan makanan bukanlah kesalahan, yang menjadi kesalahan adalah membuang dan tidak menghabiskan makanan padahal masih banyak orang belum bisa  makan
Berkomitmenlah untuk tidak menjadi orang-orang pembuang dan penyia makanan


Arius Wijaya - 04 November 2016

2 comments:

  1. Mantap yus. Itulah kenapa aku selalu menghabiskan makananku. #pembelaan #padahalrakus wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. rugi bro klo ga dihabiskan #motifekonomi #padahalrakus

      Delete